Model AI di Vogue Picu Kemarahan: Ketika Mode Berhadapan dengan Kecantikan 'Tak Manusiawi' di Agustus 2026
Uncategorized

Model AI di Vogue Picu Kemarahan: Ketika Mode Berhadapan dengan Kecantikan ‘Tak Manusiawi’ di Agustus 2026

Pernah nggak sih, lo liat iklan fashion di majalah, trus ngerasa “ih cantik banget” tapi di sisi lain ada yang aneh? Kayak terlalu sempurna gitu. Gue sering ngalamin, apalagi sekarang makin sulit bedain mana yang asli mana yang bikinan AI.

Nah, Agustus 2026 ini, Vogue bikin heboh. Mereka nampilin iklan Guess halaman ganda yang ternyata pake model AI . Bukan manusia beneran! Dan ini bukan cuma soal “AI menggantikan manusia” doang. Ini tentang gimana industri mode yang udah lama jualan “ketidaksempurnaan” sebagai ideal, eh tiba-tiba memperbaiki semuanya jadi sempurna secara digital. Ironis, kan?

Kemarahan yang Meledak di Media Sosial

Begitu edisi Agustus Vogue terbit, langsung rame. TikToker @lala4an bikin video yang nunjukin iklan itu dan dapet lebih dari 2 juta views . Komentar-komentar netizen bikin kita mikir:

“Beauty standards are already insane right now. It’s gonna reach levels of impossible for young women because poor girls are gonna start comparing themselves to not even humans,” tulis satu komentar .

YouTuber Isabel Brown juga ngomong: “No actual human being has body proportions naturally like this with that symmetrical of a face and that airbrushed of skin” . Ngenes banget, ya? Bayangin, standar kecantikan yang udah tinggi aja sekarang makin nggak masuk akal karena yang dijadiin patokan bukan lagi manusia beneran.

Sampai ada yang nge-boycott Vogue dan bilang majalah itu udah “kehilangan kredibilitas” .

Seraphinne Vallora: “Kami Cuma Bikin Cantik”

Di balik iklan kontroversial ini ada Seraphinne Vallora, studio kreatif AI yang didirikan desainer Valentina Gonzalez dan Andreea Petrescu . Mereka bilang tujuannya buat “mendemokratisasi” visual fashion kelas atas.

Petrescu cerita, proyek ini awalnya cuma cara promosiin brand perhiasan mereka sendiri tanpa budget model. Eh malah viral! Trus co-founder Guess, Paul Marciano, ngeliat dan tertarik .

Gonzalez bela diri: “We are not creating a new standard. The standard has always been there” . Dia juga bilang mereka udah coba bikin konten yang lebih inklusif—beda warna kulit, gitu—tapi nggak dapet respons bagus dari publik. “If they loved the diversity, we would have flooded our Instagram with diversity” . Jadi buat mereka, ini soal pasar, bukan pilihan mereka.

Pertahanan lain: prosesnya nggak semudah “klik tombol”. Mereka pake mood boards, stylist, bahkan model asli dan fotografer buat ngetes pose. Bisa makan waktu sampe sebulan buat satu proyek besar .

Ini Bukan Cuma Soal “Model Kehilangan Kerja”

Kemarahan publik lebih dalam dari sekadar “AI ngambil kerjaan model”. Ada beberapa lapis masalah:

1. Standar Kecantikan yang Makin Nggak Masuk Akal

Vanessa Longley, CEO organisasi Beat yang bantu orang dengan gangguan makan, bilang paparan gambar tubuh nggak realistis terus-terusan bisa ngerusak persepsi tubuh dan ningkatin risiko gangguan makan . Ini bukan iseng—ini soal kesehatan mental generasi muda.

2. Hapusnya Perjuangan Inklusivitas

Model plus-size Felicity Hayward, yang udah 10 tahun di industri, nyebut ini “menyedihkan dan menakutkan”. Menurut dia, setelah sekian lama berjuang buat inklusivitas (model trans, hijab, plus-size), industri mode malah mundur lagi . “Ini pukulan telak buat model-model yang selama ini perjuangin representasi,” katanya.

3. Model “Dibersihkan” Secara Digital

Kasus di Australia lebih parah. Model keturunan Nigeria-Australia, Elii Emeghebo, ngelewatin toko Peter Jackson dan liat foto “kembaran putih”-nya . Hidungnya diubah, warna kulitnya dicerain, bentuk matanya dibuat lebih Eropa . Ini bukan cuma soal kehilangan kerja—ini soal identitas dan rasisme. Emeghebo sekarang lagi bawa kasus ke Komisi HAM Australia .

Di New Zealand, model Elijah Timmins-Scanlon juga nuduh brand Huffer pake AI buat bikin foto yang keliatan kayak dia tanpa bayar ekstra . Dan di AS, model Francheska Pujols nuntut Rainbow karena foto dirinya dipake AI dengan pose yang “seksual” dan nggak dia setujui .

4. Nggak Ada Regulasi yang Jelas

Masalahnya: belum ada aturan yang melindungi model dari penggunaan AI tanpa izin. Di Australia, model-model terpaksa “memaksakan” klausul AI ke kontrak mereka . Di AS, Pujols pake jalur hukum soal pencemaran nama baik, bukan perlindungan citra .

Data Ilmiah: Konsumen Juga Nggak Suka

Penelitian ilmiah di Journal of Retailing and Consumer Services 2026 nunjukin iklan pake model AI bikin konsumen lebih skeptis—dan ini ngerusak minat beli, dukungan merek, dan WOM (word of mouth) . Peneliti dapet data dari 875 responden di AS: orang punya persepsi negatif tentang model AI karena ancaman kehilangan kerja dan masalah etika .

Ini bukti bahwa backlash publik bukan sekadar “orang nggak ngerti teknologi”. Ini tentang value konsumen yang emang lebih milih keaslian.

Lalu, Industri Mode Mau ke Mana?

Gucci baru-baru ini juga kena kecam karena pake AI buat promosiin show-nya . Tapi beberapa brand lain mulai adaptasi dengan cara lebih cerdas.

Di Vogue edisi yang sama, ada artikel tentang “The Anti-AI Slop Playbook” . Intinya: brand-brand mulai pake “ketidaksempurnaan” sebagai sinyal keaslian—goresan tangan, tekstur berantakan, komposisi agak kaku Bottega Veneta bikin kampanye “Craft Is Our Language” yang nunjukin tangan manusia secara eksplisit . Di sisi lain, ada juga yang main-main dengan absurditas AI—kayak Almond Breeze yang bikin iklan tentang Jonas Brothers nolak konsep AI gila .

Kesimpulan: Kembali ke Manusia

Kontroversi model AI di Vogue ini bukan cuma soal teknologi. Ini tentang identitas, tentang keaslian, dan tentang apa yang kita hargai sebagai manusia. Di 2026, “perfection” yang dijual AI justru mulai terasa hambar. Yang dicari orang adalah yang terasa nyata, yang punya cerita, dan yang nggak sempurna.

Jadi, buat lo yang kerja di industri kreatif: jangan takut pake AI. Tapi inget, nilai lo bukan dari seberapa sempurna lo bisa bikin gambar. Nilai lo dari seberapa “manusia” karya lo terasa—dengan segala kekurangan yang bikin orang bisa relate. Karena di tengah banjir gambar AI yang mulus, keaslian adalah aset paling langka.

Anda mungkin juga suka...