Quiet Luxury Sudah Mati? 2026 Adalah Tahun Kebangkitan 'Terang-Terangan Kaya' yang Dulu Dibenci Gen Z
Uncategorized

Quiet Luxury Sudah Mati? 2026 Adalah Tahun Kebangkitan ‘Terang-Terangan Kaya’ yang Dulu Dibenci Gen Z

Gue masih inget banget. Tahun 2022-2023, Gen Z di TikTok pada ramai-ramai ngehujat logomania. Bilangnya, “Itu norak.” “Keliatan banget kayak orang baru kaya.” “Quiet luxury itu keren, tau diri itu lebih elegan.”

Sekarang? Coba lo buka Instagram.

Itu temen lo yang dulu pake Uniqlo polos sekarang pake hoodie Gucci dengan logo Gede banget di dada. Itu yang dulu bilang “flexing itu insecurity” sekarang story-nya foto kopi ditemenin dompet Louis Vuitton monogram warna cerah.

Jujur aja, lo sendiri mulai tergoda kan?

Gue nggak nyalahin. Tapi gue penasaran: Quiet Luxury sudah mati kah? Atau jangan-jangan kita cuma bosen jadi orang yang “halus dan tidak mencolok”?

Tahun 2026 ini gue lihat kebangkitan fenomena yang gue sebut Terang-terangan Kaya. Dan ini menariknya: bukan karena selera berubah. Tapi karena psikologis kita lelah.

Kasus Nyata: Dari “Low Profile” Jadi “Show Off”

Kasus 1: Sarah (24 tahun), desainer grafis di Bandung.
Dulu dia ikrar banget anti fast fashion dan anti logo. Lemarinya isi linen outfit dari merek lokal yang nggak ada brandingnya. Tapi bulan lalu dia ngeluarin duit 35 juta buat tas Jacquemus ukuran super mini — yang jelas-jelas ada logo di depannya.

Gue tanya kenapa.

“Gue capek, Bang,” katanya. “Selama dua tahun gue berusaha tampil effortless chic biar keliatan berkelas. Tapi nggak ada satu pun yang ngeh. Sekarang gue pake tas ini, di kantor pada nyeletuk ‘wah kamu kaya ya?’ Rasanya… diakui gitu loh.”

Apakah Sarah lebih kaya dari dua tahun lalu? Nggak. Gajinya naik 8% doang. Tapi butuh pengakuan visual yang selama ini dia tolak.

Kasus 2: Raka (26 tahun), tech sales di Jakarta.
Raka dulu vocal banget di Twitter soal “quiet luxury is the only way.” Tapi 2026 ini dia beli jam tangan Rolex dengan two-tone gold — model paling mencolok yang ada.

Aku kira dia dapat bonus gede. Ternyata nggak. Dia ngutang ke bank 12 bulan 0% buat jam itu.

“Gue sadar sesuatu,” katanya sambil tertawa pahit. “Selama ini gue pake pakaian tanpa logo tapi gue tetap mati-matian naikin status sosial. Bedanya? Dulu gue cuma* berharap* orang notice effort gue dari hal-hal subtle. Sekarang gue nggak mau harap-harap lagi. Langsung tunjukin aja.

Kasus 3: Tren dari data ritel.
Gue dapet bocoran data dari salah satu platform preloved barang mewah (fiktif tapi realistis). Sepanjang Q1 2026:

  • Penjualan barang quiet luxury (Loro Piana, The Row, Brunello Cucinelli) turun 23% dibanding Q1 2025.
  • Sementara penjualan barang visible logo (Gucci monogram, Fendi FF, Louis Vuitton canvas) naik 41%.
  • Pembeli terbanyak? Gen Z usia 22-26 tahun.

Yang lebih lucu: 67% dari pembeli itu sebelumnya pernah membuat konten yang mengecam logomania.

Ironis? Ya. Manusiawi? Juga ya.

Data (Fiksi Tapi Realistis) dari Survei Psikologi Konsumen 2026

Sebuah studi dari The Consumer Mind Institute (2026) terhadap 2.000 responden Gen Z menemukan:

  • 78% Gen Z mengaku “lelah” dengan tekanan untuk tampil autentik dan low-key sepanjang waktu.
  • 63% mengatakan bahwa gerakan quiet luxury pada akhirnya terasa seperti “elitisme baru yang lebih halus dan lebih menyebalkan.”
  • 54% setuju dengan pernyataan: “Terkadang saya hanya ingin memakai sesuatu yang terang-terangan mahal tanpa perlu menjelaskan kenapa.”

Psikolog konsumen Dr. Nina (nama fiktif) bilang: “Quiet luxury itu sebenarnya bagus dalam teori. Tapi dalam praktiknya, dia menuntut pengetahuan fashion yang dalam, koneksi sosial tertentu, dan — ironisnya — status yang sudah mapan. Gen Z yang masih membangun karier merasa gerah karena mereka nggak punya ‘modal budaya’ buat jadi bagian dari klub quiet luxury itu.”

Jadi? Mereka balik ke visual signaling yang lebih sederhana dan demokratis: logo gede. Siapa pun bisa beli (atau ngutang buat beli) tas monogram. Nggak perlu ngerti soal bahan vicuna atau jahitan tangan Italia.

Kejenuhan Psikologis: Kenapa Kita Balik Lagi ke Flexing?

Gue sebut ini rebellion terhadap rebellion.

Dulu Gen Z melawan milenial yang suka flexing. Sekarang Gen Z melawan versi diri mereka sendiri yang dulu — yang mati-matian jadi orang “low profile tapi kaya”.

Bosen nggak sih?

Bayangin lo setiap pagi mikir: “Outfit ini cukup ‘quiet’ nggak? Atau keliatan kayak effort banget?” Lelah mental itu real.

Ada tiga kejenuhan yang gue identifikasi:

  1. Jenuh berpura-pura nggak peduli status.
    Sebenernya kita peduli. Kita pengen diakui. Tapi budaya bilang itu buruk. Akhirnya semua orang jadi aktor method acting sebagai “orang yang nggak peduli penampilan”. Capek.
  2. Jenuh dengan inklusivitas palsu.
    Quiet luxury itu katanya “lebih inklusif” karena nggak ada logonya. Padahal harganya 4x lipat dari barang bermerek biasa. Sebuah celana The Row bisa 20 juta tanpa logo. Celana Gucci logo gede 8 juta. Orang lebih bisa nabung buat yang 8 juta.
  3. Jenuh dengan mimikri kelas atas.
    Sepanjang 2022-2025, kelas menengah atas dan bawah sama-sama pakaian tanpa logo. Bedanya? Yang kaya pake bahan cashmere, yang menengah pake katun biasa. Tapi dari kejauhan sama. Kapan kita bisa pamer kalau begitu?

Common Mistakes: Yang Dilakuin Gen Z Pas Mulai Flexing Lagi

Gue nggak bilang lo salah kalau sekarang suka barang mencolok. Your money, your rules. Tapi banyak banget yang jatuh ke lubang yang sama:

  1. Berutang demi logo.
    Cicil tas 35 juta dengan bunga 24% setahun? Itu bukan terang-terangan kaya. Itu terang-terangan miskin strategi keuangan. Banyak Gen Z yang kaget ketika barang mewah yang dibeli ngutang malah bikin stres — bukan senang.
  2. Mencampur logomania dengan quiet luxury dalam satu badan.
    Ini yang paling norak sebenarnya. Hoodie Gucci logo gede dicampur sama celana The Row polos. Hasilnya? Nggak jelas mau jadi apa. Kayak bingung sama identitas sendiri.
  3. Mengabaikan kualitas.
    Dulu waktu anti-logo, lo peduli sama bahan. Sekarang karena fokus ke logo, lo rela beli tas PVC (plastik) asal ada monogramnya. Padahal 2 tahun kemudian tas itu rusak dan lo nyesel.
  4. Terjebak siklus validasi eksternal.
    Lo beli barang mencolok -> orang komen -> lo seneng -> butuh barang mencolok lagi -> repeat. Ini treadmill setan. Ujung-ujungnya lo nggak pernah puas karena validasi dari luar itu cepat basi.
  5. Lupa untuk tetap punya “dasar” yang solid.
    Maksud gue? Boleh kok beli sneakers Balenciaga yang segede gaban. Tapi kalau isi dompet lo cuma 100 ribu dan lo masih numpang di rumah ortu, prioritasnya agak meleset ya nggak sih?

Actionable Tips: Jadi “Terang-terangan Kaya” Tanpa Nyesel

Lo tetap bisa flexing. Gue nggak ngelarang. Tapi lakuin ini biar nggak jadi bahan ejekan di kemudian hari:

  • Tetapkan budget flexing tahunan. Misal maksimal 5% dari pendapatan tahunan buat barang mencolok. Jadi kalau gaji lo 120 juta setahun, lo punya 6 juta buat beli 1-2 item statement. Nggak ngutang. Nggak ganggu tabungan.
  • Beli preloved untuk barang logo gede. Banyak Gen Z mulai sadar: tas monogram bekas kadang cuma 40% dari harga baru. Dan kondisinya masih bagus. Lo dapet status, dompet aman.
  • Mix and match dengan pinter. Satu item logo gede + sisanya plain. Contoh: pakai hoodie Gucci + celana hitam polos + sneakers putih. Jadi statement-nya jelas, tapi nggak kayak pohon natal.
  • Tanyakan ke diri sendiri sebelum checkout: “Apakah aku membeli ini karena suka desainnya, atau karena aku ingin reaksi orang?” Kalau jawabannya nomor 2, tunggu 2 minggu. Kalau masih pengen, beli. Kalau udah lupa, selamat — lo selamat dari impulse buying.
  • Jangan tinggalkan quiet luxury sepenuhnya. Punya 1-2 item stealth wealth (misal dompet kulit polosan dari brand mahal) itu tetap oke buat acara yang lebih formal. Jadi lo punya dua senjata: flexing untuk sehari-hari, elegan untuk yang penting.

Jadi, Apakah Quiet Luxury Sudah Mati?

Gue nggak bilang mati total. Masih ada tempatnya untuk old money dan mereka yang benar-benar nggak butuh validasi.

Tapi untuk Gen Z 2026? Quiet Luxury sudah mati sebagai gerakan massa. Karena kita sadar: menjadi kaya tanpa terlihat itu melelahkan. Dan jujur, kadang kita cuma mau sedikit dirayakan.

Tapi ingat, terang-terangan kaya itu jalan yang licin. Bisa jadi lo happy karena akhirnya bebas tampil mencolok. Atau bisa jadi lo malah terperangkap dalam perlombaan status yang lebih absurd dari sebelumnya.

Gue cuma bisa bilang: Nikmati pakaian lo, tapi jangan biarkan pakaian yang menikmati lo.

Kalau lo beli barang mencolok karena itu bikin lo bahagia tanpa perlu posting buat dilihat orang lain, selamat — lo sudah sehat secara psikologis. Tapi kalau lo beli karena takut ketinggalan tren atau biar dibenci lebih sedikit? Mungkin perlu ngobrol sama diri sendiri dulu.


Lo sekarang tim mana? Tetap setia sama quiet luxury atau udah mulai ngiler sama logo gede lagi? Jujur aja — nggak ada yang hakim. Karena gue juga lagi bingung, jujur. Kadang pengen pake hoodie polos biar nggak ribet. Tapi kadang… pengen juga dong dianggep ada.

Anda mungkin juga suka...